BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Bank
merupakan suatu lembaga yang berfungsi sebagai perantara keuangan (financial
intermediary) antara pihak-pihak yang mempunyai dana (surplus unit)
dengan pihak-pihak yang memerlukan dana (deficit unit) dan bank juga
berfungsi sebagai lembaga yang memperlancar aliran lalu lintas pembayaran.
Menurut Undang-Undang RI Nomor 10
Tahun 1998 tentang Perbankan, perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut
tentang bank yang mana mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan
proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Sedangkan bank adalah suatu badan
usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan
menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya
dalam rangka untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Bank
berusaha bagaimana menghimpun dana sebesar-besarnya dari masyarakat. Semakin
besar bank dapat menghimpun dana dari masyarakat, akan semakin besar
kemungkinan bank tersebut dapat memberikan kredit dan ini berarti semakin besar
kemungkinan bank tersebut memperoleh pendapatan (interest income),
sebaliknya semakin kecil dana yang dapat dihimpun semakin kecil pula kredit
yang diberikan, maka semakin kecil pula pendapatan bank.
Tingkat kesehatan bank dapat dinilai
dari beberapa indikator. Salah satu indikator utama yang dijadikan sebagai
dasar penilaian adalah laporan keuangan bank yang bersangkutan. Berdasarkan
laporan keuangan akan dapat dihitung sejumlah rasio keuangan yang lazim
dijadikan sebagai dasar penilaian tingkat kesehatan bank. Hasil analisis
laporan keuangan akan membantu menginterpretasikan berbagai hubungan kunci
serta kecendrungan yang dapat memberikan dasar pertimbangan mengenai potensi
keberhasilan perusahaan dimasa yang akan datang.
Pengakuan pendapatan dan beban merupakan suatu
hal yang penting untuk menentukan kapan suatu penghasilan diakui sebagai
pendapatan dan biaya diakui sebagai beban. Analisis akuntansi pendapatan dan
beban merupakan suatu analisis yang dilakukan terhadap pengakuan, pengukuran,
dan penyajian pendapatan dan beban pada sebuah perusahaan. Pendapatan dan beban
ini sangat penting artinya untuk mendapatkan laba rugi yang wajar.
Dalam
industri perbankan risiko kegagalan pasti ada akan tetapi risiko kegagalan yang
terjadi biasanya disebabkan oleh kegagalan dalam menangani portofolio kredit
ataupun kesalahan manajemen perusahaan yang berakibat pada kesulitan keuangan.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas,
maka rumusan masalah yang dapat kita ketahui adalah sebagai berikut :
1 . Apa yang di maksud dengan akuntansi pendapatan?
2 . Apa saja yang termasuk jenis-jenis akuntansi
pendapatan?
3 . Apa yang di maksud dengan biaya bank?
4 .Apa saja yang termasuk jenis-jenis biaya bank?
1.3.Tujuan Penulisan
Tujuan dari di lakukannya penulisan
makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Perbankan Strata Satu (S1) , Fakultas
Ilmu Ekonomi Universitas Gunadarma Depok jurusan Akuntansi.
1 . Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan
akuntansi pendapatan.
2 . Untuk mengetahui jenis-jenis akuntansi perbankan .
3 . Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan biaya
bank.
4 . Untuk mengetahui jenis-jenis biaya bank.
BAB II
AKUNTANSI PENDAPATAN
2.1
PENGERTIAN
AKUNTANSI PENDAPATAN
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (1999:233) dalam buku Standart
Akuntansi Keuangan menyebutkan bahwa pendapatan adalah: “Arus masuk bruto dari
manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama satu
periode, bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal
dari kontribusi penanaman modal”.
menurut Accounting
Principle Board dikutip oleh Theodorus Tuanakotta (1984:153) dalam buku Teori
Akuntansi pengertian pendapatan adalah” Pendapatan sebagai inflow of asset
kedalam perusahaan sebagai akibat penjualan barang dan jasa”.
Secara
Umum Pendapatan adalah penambahan jumlah aktiva sebagai hasil operasi
perusahaan secara bruto, pendapatan diperoleh karena adanya
penyerahan/penjualan barang/jasa atau aktiva lainnya dalam satu periode.
Menurut
Ikatan Akuntansi Indonesia (1999:233) dalam buku Standart Akuntansi Keuangan
menyebutkan bahwa pendapatan adalah: “Arus masuk bruto dari manfaat ekonomi
yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama satu periode, bila arus
masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi
penanaman modal”.
Dan
dalam Bank, Pengakuan pendapatan bank
pada dasarnya adalah secara accrual basis kecuali untuk aktiva produktif yang
digolongkan sebagai non-performing loans diakui secara cash
basis. Pengakuan pendapatan secara accrual mengakibatkan pertambahan
pendapatan bank pada saat jatuh waktu bunga. Sedangkan pengakuan pendapatan
secara cash basis menyebabkan bertambahnya rekening administratif
tunggakan bunga pada saat jatuh waktu pembayaran bunga dan pendapatan akan
bertambah pada saat uang benar-benar telah diterimaoteh bank dan
nasabah non-performing tersebut
Pendapatan
dalam bank terdiri dari beberapa komponen seperti pendapatan bunga,
pendapatan provisi kredit, pendapatan komisi, dan pendapatan lainnya sebagai
akibat dari transaksi bank balk yang merupakan kegiatan utama ataupun bukan.
2.2
PENGAKUAN
PENDAPATAN
PSAK
No. 31 mengatur mengenai pengakuan pendapatan bank. Dasar yang digunakan
dalam pengakuan pendapatan bank merupakan hal yang fundamental dalam hubungannya
dengan pengukuran tingkat rentabilitas (atau keuntungan) suatu bank.
Kegiatan
utama bank adalah memupuk dana yang pada umumnya adalah berbunga dan
menanamkannya dalam aktiva produktif. Seperti pada industri lainnya, selalu
terdapat kemungkinan perbedaan waktu antara perolehan pendapatan dan terjadinya
beban atas penggunaan sumber daya untuk menghasilKan pendapatan tersebut.
Oleh karena itu, pengkaitan (matching) antara pendapatan dan beban bank tidak
mudah dilakukan, sehingga dalam pengakuan pendapatan perlu diperhatikan sifat
dari keunikkan usaha bank tersebut.
Pendapatan
bunga diakui secara akrual (accrual basis), kecuali pendapatan bunga
dari aktiva produktif non-performing. Pendapatan dari aktiva
yang non-performing hanya boleh diakui apabila pendapatan
tersebut benar-benar telah diterima (Cash basis).
2.3
JENIS-JENIS
PENDAPATAN BANK
Pendapatan
bank dapat di bagi menjadi 2 jenis yaitu:
2.3.1
Pendapatan Operasional
·
Pendapatan
Bunga Debitur.
Pendapatan
bunga dari aktiva produktif non-performing,tidak diakui sebagai
pendapatan periode berjalan sejak aktiva tersebut dinyatakan nonperforming. Dengan
demikian, bank tidak perlu melakukan penyesuaian terhadap pendapatan bunga yang
telah diakui sebelum aktiva produktif tersebut dinyatakan non-performing. Bunga
dan aktiva non-performingyangtidak diakui sebagai pendapatan akan dicatat
dalam rekening administrative karena merupakan peristiwa kontinjensi.
Hal
yang perlu diperhatikan dalam hat terjadi pelunasan yang berkaitan dengan
aktiva produktif non-performing, pelunasan tunggakan
bunga tersebut terlebih dahulu diperlakukan sebagai pelunasan
tunggakan pokoknya.
·
Komisi
dan Provisi
Provisi
kredit merupakan sumber pendapatan bank yang akan diterima dan diakui
sebagai pendapatan pada saat kredit disetujui oleh bank. Biasanya provisi
kredit langsung dibayarkan oleh nasabah yang bersangkutan.
Komisi
merupakan pendapatan bank yang sedang digiatkan belakangan ini. Komisi ini
merupakan beban yang diperhitungkan kepada para nasabah bank yang
mempergunakan jasa bank. Komisi juga lazimnya dibukukan langsung sebagai
pendapatan pada saat bank menjual jasa kepada para nasabahnya.
SKAPI
mengatur mengenai pengakuan pendapatan komisi dan provisi. Komisi dan provisi
yang berkailan langsung dengan kegiatan perkreditan diperlakukan sebagai
pendapatan atau beban yang ditangguhkan dan diamorlisasikan secara
sistimatis selama jangka waktu komitmen kredit. Apabila komitmen tersebut
diselesaikan sebelum jangka waktunya maka sisa komisi dan provisi diakui
sebagai pendapatan atau beban pada saat penyelesaian komitmen tersebut.
Komisi
dan provisi yang tidak berkailan langsung dengan kegiatan perkreditan
namun terkait dengan jangka waktu diperlakukan sebagai pendapatan atau
beban yang ditangguhkan dan diamortisasi secara sistimatis selama jangka
waktunya. Pendapatan atau beban komisi dan provisi tersebut disajikan sebagai
bagian dan pendapatan dan beban operasional lainnya dalam tubuh laporan
laba-rugi.
Komisi
dan provisi yang tidak berkaitan dengan kegiatan perkreditan dan jangka waktu,
diakui sebagai pendapatan atau beban pada saat terjadinya transaksi.
Pendapatan atau beban komisi ini disajikan sebagai pendapatan dan beban
operasional lainnya dalam tubuh laporan laba-rugi.
Sebagai
contoh, Bank Omega menyetujui kredit untuk PT. CVD sebesar Rp. 200juta selama
jangka waktu 5 tahun. Provisi kredit ditetapkan sebesar 0.6 persen dari pagu
kredit, Ayat jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah sebagai berikut :
(K) Provisi Kredit Diterima dimuka Rp. 1.200.000,-
Transaksi
ini berkaitan dengan kegiatan perkreditan dan terikat dengan jangka waktu. Oleh
sebab itu perlu dialokasikan setiap bulan selama lima tahun mendatang. Provisi
kredit ini akan dialokasikan menjadi pendapatan dan akan disajikan dalam
laporan laba-rugi bulanan. Alokasi pendapatan pada bulan pertama dilakukan
dengan cara sebagai berikut. Alokasi Bulan Pertama = 1/60 * Rp. 1.200.000 = Rp.
20.000 Ayal jurnal yang dibual adalah sebagai berikut :
(D) Provisi Kredit Diterima Dimuka Rp. 20.000,-
(K) Pendapatan Provisi Rp.
20.000,-
Contoh lain, bila Bank Omega
membebankan komisi kepada nasabah giro alas jasa ATM yang dipergunakannya
sebesar Rp. 20.000. Transaksi ini tidak terikat dengan jangka waktu. Oleh Bank
Omega akan dibukukan kedalam pendapatan dengan ayat jurnal sebagai berikut :
(D) Giro Rp.
20.000,-
(K) Pendapatan Komisi Rp.
20.000,-
Jenis pendapatan komisi yang
dapatdiciptakan dalam bank banyak sekali, yang lazimnya berasal dari jasa yang
ditawarkan.
·
Pendapatan
Atas Transaksi Valuta Asing.
Pendapatan
yang timbul dari transaksi valuta asing lazimnya berasal dari selisih
kurs. Selisih kurs ini akan dimasukkan kedalam pos pendapatan dalam
laporan laba-rugi. Laba atau rugi yang timbul dari valuta asing harus
diakui sebagai pendapatan atau beban dalam perhitungan labarugi periode
berjalan.
Seringkali
suatu bank devisa yang memiliki aktiva atau kewajiban dalam valuta asing dalam
jumlah yang besar berupaya untuk menghindar adanya kerugian akibat selisih
kurs. Upaya ini dikenal dengan hedging dalam hutang ataupun piutang.
Didalam melakukan hedging ini bank akan melaksanakan pembelian atau penjualan
valuta asing secara bodangka, atau dikenal dengan forward.
Dalam
transaksi forward, piutang atau hutang valuta asing dicatat
sebesar kurs tunai yang berlaku pada saat itu (spot rate),sedangkan
hutang atau piutang Rupiah dicatat sebesar kurs masa depan (forward
rate), yaitu kurs pertukaran mata uang asing di hari kemudian yang
ditentukan berdasarkan perjanjian.
Akibat
dari penggunaan kurs yang berbeda antara kurs spot danforward, maka
akan timbul laba atau rugi kurs. Selisih kurs ini merupakan diskonto atau
premi. yang harus diamorlisasi secara proporsional sesuai dengan
jangka waktu transaksi valuta berjangkalaba atau rugi kurs yang timbul
sebagai akibat perbedaan kurs tunai tanggal neraca dan kurs tunai
pada saat terjadinya transaksi valuta berjangka harus diakui pada penodeyang
bersangkutan. Dengan demikian akan teqadi dua macam laba atau rugi akibat
transaksi berjangka dalam valuta asing ini, yaitu diskonto dan pengakuan
laba-rugi karena perbedaan kurs neraca dan transaksi berjangka tersebut.
Untuk
transaksi berjangka valuta asing dalam rangka trading, selisih antara kurs
yang diperjanjikan (contracted forward rate)dengan kurs tunai pada
tanggal jatuh waktu (spot rate) diakui sebagai laba atau rugi
transaksi valuta asing pada akhlr masa kontrak.
Dalam
neraca, hutang atau piutang dan diskonto atau premi belum diamortisasi
yang timbulnya dari kontrak valuta berjangka yang berhubungan harus dijadikan
sate dibagian harts atau kewajiban, tergantung pada saldo posisi neto dari
kewajiban kontrak-kontrak valuta berjangka tersebut. Premi atau diskonto
tersebut disajikan sebagai penambah atau pengurang beban bunga.
Teknik
pembukuan transaksi berjangka valuta asing dapat dipelajari pada topik
akuntansi untuk valuta asing.
·
Swap Suku
Bunga.
Salah
satu jenis hedging dan upaya unluk meraih keuntungan dalam mekanisme pasar uang
adalah dengan melakukan gadai valuta asing atau dikenal dengan
istilah swap. Dalam kenyataannya, ada dua jenis
transaksi swap. Pertama, adalah transaksi swap suku bunga dalam
rangka pendanaan. Kedua, transaksi swap suku bunga dalam
rangka trading.
Untuk
transaksi swap dalam rangka pendanaan, selisih antara suku
bunga yang dipertukarkan (original interest rate)dengan suku bunga
yang diperjanjikan (contracted interest rate)disajikan sebagai
penambah atau pengurang beban dana dan diamortisasiken secara proporsional selama jangka
waktu kontrak.
Untuk
transaksi swap suku bunga dalam rangka trading, selisih
antara suku bunga yang dipertukarkan dengan suku bunga yang
diperjanjikan diakui sebagai laba atau rugi padaakhir masa kontrak. Teknik
pembukuan transaksi swap ini dapat dijumpai pada pembahasan akuntansi
dalam valuta asing.
·
Pendapatan Operasional Lainnya.
Selain
pendapatan operasional, juga terdapat pendapatan non-operasional yaitu
pendapatan yang timbul bukan dari kegiatan utarna bisnis bank. Contoh dari
pendapatan operasional lainnya adalah penerimaan deviden dari anak perusahaan
atau penyertaan saham, laba rugi penjualan surat berharga pasar modal, dan
lainnya.
Pengakuan
pendapatan dari deviden erat kaitannya dengan metode pencatatan dari
penyertaan, apakah secara cost atau equity method. Hal ini telah
dibahas pada bab penyertaan pada bagian akuntasi penanaman dana.
Berikut
ini diberikan contoh pendapatan lain yang timbul dari penjualan sural berharga.
Apabila Bank Omega memiliki 100 lembar saham PT. BBC sebesar nominal Rp.
100.000 per lembar dan telah dibeli sebesar Rp. 9.800.000 untuk seluruh saham
tersebut. Kemudian saham lersebut dijual Rp. 98.500 per lembar secara tunai.
Perhitungan keuntungan dari penjualan saham dan ayat jumal untuk membukukan
transaksi tersebut dijabarkan sebagai berikut.
Harga perolehan
saham.......................... Rp. 9.800.000
Harga Jual :Rp. 98.500 *
100................ Rp. 9.850.000
Keuntungan..............................................................................
Rp. 50.000
Keuntungan sebesar Rp.
50.000 harus disajikan dalam pendapatan operasional lainnya dalam tubuh
laba-rugi bank.
(D)
KAS Rp.
9.850.000,-
(K) Surat Berharga Rp.
9.800.000,-
(K) Keuntungan dari Penjualan SB Rp. 50.000.-
Capital gain penjualan
Surat berharga pasar modal harus diakui sebagai pendapatan bank.
2.3.2 Pendapatan
Non-Operasional
Yang
termasuk dalam kelompok pendapatan non-operasional adalah rupa-rupa pendapatan
yang berasal dari aktivitas diluar usaha utama bank. Contohnya adalah pendapatan
dari penjualan aktiva tetap, penyewaan fasilitas gedung yang dimiliki oleh
bank, dan lainnya. Pendapatan ini harus diakui sebagai pendapatan pada periode
berjalan.
Sebagai
contoh, apabila Bank Omega memiliki sebuah mobil dengan harga perolehan sebesar
Rp. 35 juta dan telah disusutkan sebesar Rp. 30 juta dijual tunai seharga Rp. 7
juta. Perhitungan keuntungan ini akan dibukukan dengan ayat jumal sebagai
berikut :
(D) KAS Rp. 7.000.000,-
(D) Akm. Penyusutan
Kendaraan RP.
30.000.000,-
(K) Kendaraan Rp.
35.000.000,-
(K) Keuntungan dari Penjualan
Aktiva Tetap Rp. 2.000.000,-
|
|
|
|
2.3.3
Pendapatan Luar Biasa
Disamping
pendapatan operasional rutin dan non-operasional, bank kadangkala
dihadapkan dengan sualu keuntungan yang diterima secara tiba-tiba atau tidak
pemah diramalkan semula. Keuntungan ini merupakan suatu windfall profit, dan
harus digolongkan sebagai keuntungan atau pendapatan luar biasa.
Pendapatan
luar biasa harus dipisahkan dari hasil usaha sehari-hari dan ditunjukkan
secara terpisah dalam perhitungan laba-rugi disertai pengungkapan mengenai
sifat dan jumlahnya. Dengan demikian pedu batasan atau definisi mengenai
pos atau transaksi apa saja yang dapat digolongkan yang sifatnya luar biasa.
Yang
dimaksud dengan pos luar biasa adalah pos yang memenuhi kedua kriteria sebagai
berikut :
a. Sersifat tidak
normal (tidak biasa)
Kejadian atau transaksi yang
bersangkutan memilih tingkat abnormalitas yang linggi dan tidak
berhubungan dengan aklifitas perusahaan seharihari.
b. Tidak Sering
Terjadi.
Kejadian atau transaksi yang
bersangkutan tidak dihubungkan akan terulang lagi di masa yang akan
datang.
Jadi,
yang dalam menerapkan kedua kritena tersebut, harus dipertimbangkan faktor
lingkungan dari perusahaan dan frekuensi kejadian atau transaksi, seperti
karakleristik industri dan perusahaan yang bersangkutan, faktor geografis
perusahaan, dan faktor lainnya seperti politis dan lain
sebagainya. Pengakuan pendapatan yang sifatnya luar biasa ini akan mengacu
kepada Prinsip Akuntansi Indonesia.
Kejadian
yang selalu menjadi pertimbangan bank adalah perubahan kurs valuta asing
terhadap mata uang Rupiah. Kenaikan atau penurunan selisih kurs valuta
asing tidak dapat dijadikan sebagai keuntungan atau kerugian luar biasa
bagi bank di Indonesia karena faham yang diterapkan dalam kurs valuta
asing adalah ngambang terkendali (floating rate). Akan telapi, apabila
terjadi selisih kurs yang naik secara tiba-tiba, atau naik dengan jumlah
yang cukup besar seperti adanya devaluasi Rupiah terhadap valuta asing,
maka kejadian ini dapat digolongkan kedalam pos luar
biasa (extraordinary item).Keuntungan yang timbul dari kenaikan
selisih kurs akibat dari devaluasi merupakan keuntungan atau pendapatan
yang timbul dari transaksi yang luar biasa.
2.3.4
Koreksi Masa Lalu
Tidak
semua pos dalam laba-rugi periode lalu harus dikoreksi. Pos-pos yang harus
dilaporkan sebagai koreksi masa lalu dan tidak diperhitungkan sebagai unsur
laba periode berjalan adalah koreksi terhadap kesalahan. Kesalahan yang dimaksud
adalah kesalahan dalam laporan keuangan periode yang lalu yang berasal
dari kesalahan perhilungan atau kesalahan dalam penerapan prinsip
akuntansi yang tidak tepat atau tidak dapat diterima, kelalaian mencatat
suatu transaksi atau kojadian yang telah terjadi, dan kesalahan yang bersifat
matematis. Koreksi masa lalu yang dilakukan harus diungkapkan dalam laporan
keuangan pada periode dimana koreksi tersebut dilakukan.
2.3.5
Pengaruh
Kumulatif Perubahan Prinsip Akuntansi
Adakalanya
terjadi perubahan penerapan prinsip akuntansi dalam suatu periode tertentu
karena alasan manajemen. Perubahan penerapan prinsip akuntansi ini dapat saja
berpengaruh pada pendapatan bank sehingga harus dikoreksi dan diungkapkan dalam
laporan keuangan. PAI mengatur mengenai pengaruh kumulatif perubahan prinsip
akuntansi sebagai berikut.
Pengaruh
kumulatif akibat perubahan dari suatu prinsip akuntansi yang lazim ke prinsip
lainnya yang juga sesuai dengan PAI harus dilaporkan dalam perhitungan
laba-rugi periode terjadinya perubahan, dan disajikan d antara pos luar
biasa dan laba bersih.
Jumlah
pengaruh kumulatif dari perubahan ke prinsip akiintansi yang baru
merupakan selisih antara jumlah laba yang ditahan pada awal
periode perubahan dengan jumlah laba yang ditahan yang seharusnya
dilaporkan bila prinsip akuntansi yang baru tersebut telah diterapkan
secara retroaktif untuk seluruh periode yang dipengaruhi.
2.4 Pengukuran Pendapatan
Pendapatan diukur dengan nilai wajar yang
dapat diterima, jumlah pendapatan biasanya ditentukan oleh persetujuan antara
perusahaan dan pembeli yang diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima
atau yang dapat diterima perusahaan dikurangi jumlah discount dagang dan rabat
volume yang diperbolehkan perusahaan, umumnya berbentuk kas atau setara kas.
Bila arus masuk dari kas atau setara kas
ditangguhkan nilai wajar dari imbalan tersebut mungkin kurang dari jumlah
nominal dari kas yang diterima atau yang dapat diterima.
Bila barang atau jasa dipertukarkan untuk
barang atau jasa dengan sifat nilai yang sama maka pertukaran tidak dianggap
sebagai transaksi yang mengakibatkan pendapatan. Dan bila barang dijual atau
jasa diberikan untuk dipertukarkan dengan barang dan jasa yang tidak serupa
pertukaran tersebut dianggap sebagai transaksi yang mengakibatkan pendapatan.
Pendapatan tersebut diukur pada nilai wajar
dari barang atau jasa yang diserahkan, disesuaikan dengan jumlah kas atau
setara kas yang ditransfer.
BAB III
BIAYA BANK
3.1
PENGERTIAN
BIAYA BANK
Secara Umum “Beban
atau biaya adalah pengorbanan yang terjadi dalam rangka memperoleh pendapatan.”
Biaya
merupakan pengeluaran yang dilakukan oleh suatu perusahaan dalam rangka
menciptakan atau memperoleh pendapatan. Maksud dari biaya disini adalah
biaya yang secara langsung atau tidak langsung telah dimanfaatkan untuk
menciptakan pendapatan dalam suatu periode tertentu. Biaya yang
dikeluarkan tidak memberikan manfaat ekonomis untuk kegiatan periode
berikutnya.
Dalam
Bank Biaya diakui secara accrual basis, selalu diakui dan dibebankan
kedalam perhitungan laba-rugi pada saatjatuh waktu tanpa tedebih dahulu
menunggu pembayaran. Pembayaran biaya dimuka harus dialokasikan
kedalam rekening biaya secara proporsional.
Biaya
yang terdapat dalam laporan laba-rugi bank terdiri dari biaya operasianal
seperti biaya bunga, biaya komisi, biaya overhead dan biaya non-operasional.
Biaya-biaya ini merupakan beban periode berjalan.
3.2
PENGAKUAN
BIAYA
Biaya
diakui secara accrual basis, artinya selalu diakui dan dibebankan ke
dalamperhitungan laba rugi saat jatuh waktu tanpa terlebih dahulu menunggu
pembayaran.Pembayaran biaya dimuka harus dialokasikan ke dalam rekening biaya
secara proporsional.
3.3
JENIS-JENIS
BIAYA BANK
3.3.1 Biaya Operasional
·
BIAYA
BUNGA.
Jenis
biaya yang paling besar porsinya terhadap biaya bank keseluruhan adalah biaya
bunga. Biaya bunga terdiri dari biaya bunga dana yang dimiliki oleh bank. Biaya
ini harus diantisipasikan oleh bank pada penutupan tahun buku atau pada tanggal
laporan. Biaya bunga ini telah dibahas pada waktu mengupas akuntansi penanaman
dana. Biaya bunga pada dasarnya diakui secara accrual
basis, kecualipendapatan bunga dalam aktiva produktif non-performing.
·
BIAYA
VALUTA ASING.
Biaya
dalam transaksi valuta asing lazimnya muncul dari selisih kurs yang
merugi. Dalam hal munculnya kerugian selisih kurs baik dalam
transaksi spot, tonvard, maupun swap akan dibebankan
kedalam laporan laba-rugi.
·
BIAYA
OVERHEAD.
Dalam operasi bank
sehari-harinya dipedukan biaya untuk mengolah transaksi. Biaya atau beban ini
berhubungan tangsung dengan periode terjadinya, oleh sebab itu harus dicatat
dan diakui-sebagai beban periode berjalan. Biaya yang dikeluarkan oleh bank ini
tidak memiliki manfaat untuk masa-masa mendatang.
Biaya overhead yang ada di bank mempunyai beberapa ciri
sebagai berikut.
1. tidak
dapat diidentifikasiakn secara langsung dengan jasa dihasilkan, karena biaya
yang dikeluarkan untuk semua kegiatan bank.
2. Menjadi
beban atau biaya pada periode terjadinya. Tidak ada biaya overhead untuk
beberapa periode.
3. Biaya
overhead yang dikeluarkan tidak memberikan manfaat untuk masa yang akan
datang.
Ada berbagai jenis biaya overhead yang harus terjadi dan
diakui dalam laporan laba –rugi bank. Jenis-jenis biaya tersebut antara lain
biaya-biaya yang berkaitan dengan pegawai seperti gaji, tunjangan-tunjangan,
biaya penyusutan dari aktiva tetap, biaya operasional kantor yang bukan biaya
pegawai atau penyusutan, dan jenis biaya-biaya lain yang dikeluarkan atau
berkaitan dengan periode pelaporan keuangan.
Biaya
Pegawai.
Sebagai contoh, apabila Bank Omega cabang Jakarta
membayar gaji pegawai sebesar Rp. 200 juta untuk periode bulan Desember 19XX,
dan membayar tunjangan kesehatan Rp. 50juta secara tunai. oleh Bank Omega akan
dibukukan dengan ayat jurnal sebagai berikut.
(D) Tunjangan Kesehatan RP. 50.000.000,-
(K) Kas Rp.
250.000.000,-
Biaya
Kegiatan Kantor.
Contoh lain adalah biaya yang berkenaan dengan kegiatan
kantor. Apabila Bank Omega Cabang Jakarta mengeluarkan biaya pengurusan
tamu sebesar Rp. 20 juta selama bulan Desember 19XX, biaya listrik dan
air sebesar Rp. 45 juta, biaya riset untuk kegiatan marketing periode
berjalan Rp. 43 juta, biaya alai tulis kantor Rp. 23 juta. Semua
dibayarkan secara tunai.
(D) Biaya Listrik dan Air RP. 45.000.000,-
(D) Biaya Riset Rp. 43.000.000,-
(D) Biaya Alat Tulis
Kantor RP. 23.000.000,-
(K) Kas Rp.
131.000.000,-
Khusus untuk biaya riset dapat ditangguhkan dan
dialokasikan secara berkala apabila manfaatnya dirasakan lebih dan satu tahun.
Biaya
Penyusutan.
Penyusutan merupakan alokasi
biaya yang dibebankan kedalam laporan laba-rugi menurut kriteria atau
berdasarkan waktu dengan beberapa pilihan atau metode penyusutan sebagai
bedkut.
a. Metode garis lurus,
dimana besarnya penyusutan dilakukan dengan jumlah yang sama setiap
periode.
periode.
b. Metode pembebanan yang
menurun, yang terdiri dari :
·
Metode Sum-of-the-year digits method, dimana
besamya penyusutan akan menurun setiap periodenya dibanding dengan
periode sebelumnya.
·
Metode Declining balance method, dimana
besarnya penyusutan akan semakin kecil setiap periodenya dan tarip yang
dipergunakan adalah dua kali tarip semula.
Untuk aktiva tetap tak
berwujud umumnya diamortisasikan berdasarkan metode garis lurus dan
penyusutannya langsung mengkredit rekening aktiva yang bersangkutan.
3.3.2
Biaya
Non-Operasional
Selain
biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan utama bank, juga
ada biaya-biaya yang terjadi atau dikeluarkan tidak berkaitan dengan
kegiatan utama bank. Kerugian dari penjualan aktiva tetap merupakan salah
sate contoh dari biaya non-operasional.
Sebagai contoh apabila Bank
Omega cabang Jakarta menjual inventaris kantor secara lelang karena sudah habis
umur ekonomisnya dengan harga Rp. 400.000 secara tunai dimana harga perolehannya
sebesar Rp- 3.000.000 dan telah habis disusutkan. Ayat jumal untuk
mencatat transaksi ini adalah sebagai berikut :
(D) Akumulasi Penyusutan — Inventaris Kantor RP. 3.000.000,-
(K) Inventaris Kantor Rp.
3.000.000,-
(K) Keuntungan dari Penjualan
Aktiva Tetap Rp. 400.000
3.3.3
Pos/Biaya
Luar Biasa
Biaya
atau kerugian yang timbul digolongkan sebagai pos luar biasa harus dipisahkan
dan hasil usaha sehari-hari dan ditunjukan secara terpisah dalam perhitungan
laba-trugi disertai pengungkapan atas sifat dan jumlahnya. Seperti halnya
pendapatan luar biasa, biaya luar biasa kejadianya tidak normal atau tidak
berhubungan dengan kegiatan perusahaan, sehari-hari serta tidak sering
terjadi atau tidak terulang lagi dimasa yang akan datang.
Peristiwa
seperti gempa bumi dan apabila merugikan bank dapat digolongkan sebagai
kerugian atau pos luar biasa. Tetapi apabila di satu negara, seperti
Jepang misalnya, peristiwa ini sangat sering terjadi. Dengan demikian
kerugian akibat peristiwa ini tidak bisa digolongkan sebagai peristiwa
luar biasa.
3.3.4
Koreksi
Masa Lalu
Koreksi
masa lalu yang berkaitan dengan unsur laba-rugi dapat dilakukan apabila
telah terjadi kesalahan dalam penghitungan atau kesalahan penerapan
prinsip akuntansi yang tidak tepat waklu atau tidak dapat diterima, kelalaian
mencatat suatu transaksi atau kejadian yang telah terjadi, dan kesalahan
matematis. Koreksi yang dilakukan terhadap laba-rugi periode lalu harus
tetap dlungkapkan.
3.3.5
Pajak
Penghasilan (PPh)
Pos
biaya paling akhir dalam tubuh laporan laba-rugi adalah pajak penghasilan.
Pajak penghasilan dihitung berdasarkan laba menurut akuntansi atau laba
kena pajak (taxable income)untuk diperhitungkan dengan tarip pajak
penghasilan.
Dalam
hal pajak penghasilan dihitung menurut laba akuntansi, selisih perhilungan
tersebut dengan hutang pajak (yang dihitung menurut laba kena pajak), yang
disebabkan perbedaan waktu (timing difference) pengakuan pendapatan
dan beban untuk tujuan akuntansi dengan tujuan pajak, ditampung dalam pos
'Pajak Penghasilan' yang ditangguhkan dan dialokasikan pada beban pajak
penghasilan tahun-lahun mendatang.
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Pendapatan adalah
penambahan jumlah aktiva sebagai hasil operasi perusahaan secara bruto,
pendapatan diperoleh karena adanya penyerahan/penjualan barang/jasa atau aktiva
lainnya dalam satu periode
SedangkanBiaya
merupakan pengeluaran yang dilakukan oleh suatu perusahaan dalam rangka
menciptakan atau memperoleh pendapatan. Maksud dari biaya disini adalah
biaya yang secara langsung atau tidak langsung telah dimanfaatkan untuk
menciptakan pendapatan dalam suatu periode tertentu. Biaya yang dikeluarkan
tidak memberikan manfaat ekonomis untuk kegiatan periode berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA



