12 November 2014

Pendapatan Dan Biaya Bank



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah
           
            Bank merupakan suatu lembaga yang berfungsi sebagai perantara keuangan (financial intermediary) antara pihak-pihak yang mempunyai dana (surplus unit) dengan pihak-pihak yang memerlukan dana (deficit unit) dan bank juga berfungsi sebagai lembaga yang memperlancar aliran lalu lintas pembayaran.

Menurut Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank yang mana mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Sedangkan bank adalah suatu badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Bank berusaha bagaimana menghimpun dana sebesar-besarnya dari masyarakat. Semakin besar bank dapat menghimpun dana dari masyarakat, akan semakin besar kemungkinan bank tersebut dapat memberikan kredit dan ini berarti semakin besar kemungkinan bank tersebut memperoleh pendapatan (interest income), sebaliknya semakin kecil dana yang dapat dihimpun semakin kecil pula kredit yang diberikan, maka semakin kecil pula pendapatan bank.
Tingkat kesehatan bank dapat dinilai dari beberapa indikator. Salah satu indikator utama yang dijadikan sebagai dasar penilaian adalah laporan keuangan bank yang bersangkutan. Berdasarkan laporan keuangan akan dapat dihitung sejumlah rasio keuangan yang lazim dijadikan sebagai dasar penilaian tingkat kesehatan bank. Hasil analisis laporan keuangan akan membantu menginterpretasikan berbagai hubungan kunci serta kecendrungan yang dapat memberikan dasar pertimbangan mengenai potensi keberhasilan perusahaan dimasa yang akan datang.

 Pengakuan pendapatan dan beban merupakan suatu hal yang penting untuk menentukan kapan suatu penghasilan diakui sebagai pendapatan dan biaya diakui sebagai beban. Analisis akuntansi pendapatan dan beban merupakan suatu analisis yang dilakukan terhadap pengakuan, pengukuran, dan penyajian pendapatan dan beban pada sebuah perusahaan. Pendapatan dan beban ini sangat penting artinya untuk mendapatkan laba rugi yang wajar.
Dalam industri perbankan risiko kegagalan pasti ada akan tetapi risiko kegagalan yang terjadi biasanya disebabkan oleh kegagalan dalam menangani portofolio kredit ataupun kesalahan manajemen perusahaan yang berakibat pada kesulitan keuangan.

1.2.Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dapat kita ketahui adalah sebagai berikut :
1 . Apa yang di maksud dengan akuntansi pendapatan?
2 . Apa saja yang termasuk jenis-jenis akuntansi pendapatan?
3 . Apa yang di maksud dengan biaya bank?
4 .Apa saja yang termasuk jenis-jenis biaya bank?


1.3.Tujuan  Penulisan
            Tujuan dari di lakukannya penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Perbankan Strata Satu (S1) , Fakultas Ilmu Ekonomi Universitas Gunadarma Depok jurusan Akuntansi.
1 . Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan akuntansi pendapatan.
2 . Untuk mengetahui jenis-jenis akuntansi perbankan .
3 . Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan biaya bank.
4 . Untuk mengetahui jenis-jenis biaya bank.














BAB II
AKUNTANSI PENDAPATAN


2.1            PENGERTIAN AKUNTANSI PENDAPATAN

Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (1999:233) dalam buku Standart Akuntansi Keuangan menyebutkan bahwa pendapatan adalah: “Arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama satu periode, bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal”.
menurut Accounting Principle Board dikutip oleh Theodorus Tuanakotta (1984:153) dalam buku Teori Akuntansi pengertian pendapatan adalah” Pendapatan sebagai inflow of asset kedalam perusahaan sebagai akibat penjualan barang dan jasa”.
Secara Umum Pendapatan adalah penambahan jumlah aktiva sebagai hasil operasi perusahaan secara bruto, pendapatan diperoleh karena adanya penyerahan/penjualan barang/jasa atau aktiva lainnya dalam satu periode.

Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (1999:233) dalam buku Standart Akuntansi Keuangan menyebutkan bahwa pendapatan adalah: “Arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama satu periode, bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal”.

Dan dalam Bank, Pengakuan pendapatan bank pada dasarnya adalah secara accrual ba­sis kecuali untuk aktiva produktif yang digolongkan sebagai non-perform­ing loans diakui secara cash basis. Pengakuan pendapatan secara accrual mengakibatkan pertambahan pendapatan bank pada saat jatuh waktu bunga. Sedangkan pengakuan pendapatan secara cash basis menyebabkan bertambahnya rekening ad­ministratif tunggakan bunga pada saat jatuh waktu pembayaran bunga dan pendapatan akan bertambah pada saat uang benar-benar telah diterimaoteh bank dan nasabah non-performing tersebut

Pendapatan dalam bank terdiri dari beberapa komponen seperti pendapatan bunga, pendapatan provisi kredit, pendapatan komisi, dan pendapatan lainnya sebagai akibat dari transaksi bank balk yang merupakan kegiatan utama ataupun bukan.


2.2            PENGAKUAN PENDAPATAN

PSAK No. 31 mengatur mengenai pengakuan pendapatan bank. Dasar yang digunakan dalam pengakuan pendapatan bank merupakan hal yang fundamental dalam hubungannya dengan pengukuran tingkat rentabilitas (atau keuntungan) suatu bank.

Kegiatan utama bank adalah memupuk dana yang pada umumnya adalah berbunga dan menanamkannya dalam aktiva produktif. Seperti pada industri lainnya, selalu terdapat kemungkinan perbedaan waktu antara perolehan pendapatan dan terjadinya beban atas penggunaan sumber daya untuk menghasilKan pendapatan tersebut. Oleh karena itu, pengkaitan (match­ing) antara pendapatan dan beban bank tidak mudah dilakukan, sehingga dalam pengakuan pendapatan perlu diperhatikan sifat dari keunikkan usaha bank tersebut.

Pendapatan bunga diakui secara akrual (accrual basis), kecuali pendapatan bunga dari aktiva produktif non-performing. Pendapatan dari aktiva yang non-performing hanya boleh diakui apabila pendapatan tersebut benar-benar telah diterima (Cash basis).


2.3            JENIS-JENIS PENDAPATAN BANK
Pendapatan bank dapat di bagi menjadi 2 jenis yaitu:

2.3.1   Pendapatan Operasional

·         Pendapatan Bunga Debitur.

Pendapatan bunga dari aktiva produktif non-performing,tidak diakui sebagai pendapatan periode berjalan sejak aktiva tersebut dinyatakan non­performing. Dengan demikian, bank tidak perlu melakukan penyesuaian terhadap pendapatan bunga yang telah diakui sebelum aktiva produktif tersebut dinyatakan non-performing. Bunga dan aktiva non-performingyangtidak diakui sebagai pendapatan akan dicatat dalam rekening administra­tive karena merupakan peristiwa kontinjensi.

Hal yang perlu diperhatikan dalam hat terjadi pelunasan yang berkaitan dengan aktiva produktif non-performing, pelunasan tunggakan bunga tersebut terlebih dahulu diperlakukan sebagai pelunasan tunggakan pokoknya.

·         Komisi dan Provisi

Provisi kredit merupakan sumber pendapatan bank yang akan diterima dan diakui sebagai pendapatan pada saat kredit disetujui oleh bank. Biasanya provisi kredit langsung dibayarkan oleh nasabah yang bersangkutan.

Komisi merupakan pendapatan bank yang sedang digiatkan belakangan ini. Komisi ini merupakan beban yang diperhitungkan kepada para nasabah bank yang mempergunakan jasa bank. Komisi juga lazimnya dibukukan langsung sebagai pendapatan pada saat bank menjual jasa kepada para nasabahnya.

SKAPI mengatur mengenai pengakuan pendapatan komisi dan provisi. Komisi dan provisi yang berkailan langsung dengan kegiatan perkreditan diperlakukan sebagai pendapatan atau beban yang ditangguhkan dan diamorlisasikan secara sistimatis selama jangka waktu komitmen kredit. Apabila komitmen tersebut diselesaikan sebelum jangka waktunya maka sisa komisi dan provisi diakui sebagai pendapatan atau beban pada saat penyelesaian komitmen tersebut.

Komisi dan provisi yang tidak berkailan langsung dengan kegiatan perkreditan namun terkait dengan jangka waktu diperlakukan sebagai pendapatan atau beban yang ditangguhkan dan diamortisasi secara sistimatis selama jangka waktunya. Pendapatan atau beban komisi dan provisi tersebut disajikan sebagai bagian dan pendapatan dan beban operasional lainnya dalam tubuh laporan laba-rugi.

Komisi dan provisi yang tidak berkaitan dengan kegiatan perkreditan dan jangka waktu, diakui sebagai pendapatan atau beban pada saat terjadinya transaksi. Pendapatan atau beban komisi ini disajikan sebagai pendapatan dan beban operasional lainnya dalam tubuh laporan laba-rugi.

Sebagai contoh, Bank Omega menyetujui kredit untuk PT. CVD sebesar Rp. 200juta selama jangka waktu 5 tahun. Provisi kredit ditetapkan sebesar 0.6 persen dari pagu kredit, Ayat jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah sebagai berikut :
                        (D) Kas                                                             Rp. 1.200.000,-                                   
                                    (K) Provisi Kredit Diterima dimuka                             Rp. 1.200.000,-

Transaksi ini berkaitan dengan kegiatan perkreditan dan terikat dengan jangka waktu. Oleh sebab itu perlu dialokasikan setiap bulan selama lima tahun mendatang. Provisi kredit ini akan dialokasikan menjadi pendapatan dan akan disajikan dalam laporan laba-rugi bulanan. Alokasi pendapatan pada bulan pertama dilakukan dengan cara sebagai berikut. Alokasi Bulan Pertama = 1/60 * Rp. 1.200.000 = Rp. 20.000 Ayal jurnal yang dibual adalah sebagai berikut :


 
            (D) Provisi Kredit Diterima Dimuka                            Rp. 20.000,-                            
                                    (K) Pendapatan Provisi                                                Rp. 20.000,-



Contoh lain, bila Bank Omega membebankan komisi kepada nasabah giro alas jasa ATM yang dipergunakannya sebesar Rp. 20.000. Transaksi ini tidak terikat dengan jangka waktu. Oleh Bank Omega akan dibukukan kedalam pendapatan dengan ayat jurnal sebagai berikut :


 
   (D) Giro                                                                    Rp. 20.000,-                            
                                    (K) Pendapatan Komisi                                                Rp. 20.000,-



Jenis pendapatan komisi yang dapatdiciptakan dalam bank banyak sekali, yang lazimnya berasal dari jasa yang ditawarkan.

·         Pendapatan Atas Transaksi Valuta Asing.

Pendapatan yang timbul dari transaksi valuta asing lazimnya berasal dari selisih kurs. Selisih kurs ini akan dimasukkan kedalam pos pendapatan dalam laporan laba-rugi. Laba atau rugi yang timbul dari valuta asing harus diakui sebagai pendapatan atau beban dalam perhitungan laba­rugi periode berjalan.

Seringkali suatu bank devisa yang memiliki aktiva atau kewajiban dalam valuta asing dalam jumlah yang besar berupaya untuk menghindar adanya kerugian akibat selisih kurs. Upaya ini dikenal dengan hedging dalam hutang ataupun piutang. Didalam melakukan hedging ini bank akan melaksanakan pembelian atau penjualan valuta asing secara bodangka, atau dikenal dengan forward.

Dalam transaksi forward, piutang atau hutang valuta asing dicatat sebesar kurs tunai yang berlaku pada saat itu (spot rate),sedangkan hutang atau piutang Rupiah dicatat sebesar kurs masa depan (forward rate), yaitu kurs pertukaran mata uang asing di hari kemudian yang ditentukan berdasarkan perjanjian.

Akibat dari penggunaan kurs yang berbeda antara kurs spot danfor­ward, maka akan timbul laba atau rugi kurs. Selisih kurs ini merupakan diskonto atau premi. yang harus diamorlisasi secara proporsional sesuai dengan jangka waktu transaksi valuta berjangkalaba atau rugi kurs yang timbul sebagai akibat perbedaan kurs tunai tanggal neraca dan kurs tunai pada saat terjadinya transaksi valuta berjangka harus diakui pada penodeyang bersangkutan. Dengan demikian akan teqadi dua macam laba atau rugi akibat transaksi berjangka dalam valuta asing ini, yaitu diskonto dan pengakuan laba-rugi karena perbedaan kurs neraca dan transaksi berjangka tersebut.

Untuk transaksi berjangka valuta asing dalam rangka trading, selisih antara kurs yang diperjanjikan (contracted forward rate)dengan kurs tunai pada tanggal jatuh waktu (spot rate) diakui sebagai laba atau rugi transaksi valuta asing pada akhlr masa kontrak.

Dalam neraca, hutang atau piutang dan diskonto atau premi belum diamortisasi yang timbulnya dari kontrak valuta berjangka yang berhubungan harus dijadikan sate dibagian harts atau kewajiban, tergantung pada saldo posisi neto dari kewajiban kontrak-kontrak valuta berjangka tersebut. Premi atau diskonto tersebut disajikan sebagai penambah atau pengurang beban bunga.

Teknik pembukuan transaksi berjangka valuta asing dapat dipelajari pada topik akuntansi untuk valuta asing.

·         Swap Suku Bunga.

Salah satu jenis hedging dan upaya unluk meraih keuntungan dalam mekanisme pasar uang adalah dengan melakukan gadai valuta asing atau dikenal dengan istilah swap. Dalam kenyataannya, ada dua jenis transaksi swap. Pertama, adalah transaksi swap suku bunga dalam rangka pendanaan. Kedua, transaksi swap suku bunga dalam rangka trading.
Untuk transaksi swap dalam rangka pendanaan, selisih antara suku bunga yang dipertukarkan (original interest rate)dengan suku bunga yang diperjanjikan (contracted interest rate)disajikan sebagai penambah atau pengurang beban dana dan diamortisasiken secara proporsional selama jangka waktu kontrak.

Untuk transaksi swap suku bunga dalam rangka trading, selisih antara suku bunga yang dipertukarkan dengan suku bunga yang diperjanjikan diakui sebagai laba atau rugi padaakhir masa kontrak. Teknik pembukuan transaksi swap ini dapat dijumpai pada pembahasan akuntansi dalam valuta asing.

·         Pendapatan Operasional Lainnya.

Selain pendapatan operasional, juga terdapat pendapatan non-operasional yaitu pendapatan yang timbul bukan dari kegiatan utarna bisnis bank. Contoh dari pendapatan operasional lainnya adalah penerimaan deviden dari anak perusahaan atau penyertaan saham, laba rugi penjualan surat berharga pasar modal, dan lainnya.

Pengakuan pendapatan dari deviden erat kaitannya dengan metode pencatatan dari penyertaan, apakah secara cost atau equity method. Hal ini telah dibahas pada bab penyertaan pada bagian akuntasi penanaman dana.

Berikut ini diberikan contoh pendapatan lain yang timbul dari penjualan sural berharga. Apabila Bank Omega memiliki 100 lembar saham PT. BBC sebesar nominal Rp. 100.000 per lembar dan telah dibeli sebesar Rp. 9.800.000 untuk seluruh saham tersebut. Kemudian saham lersebut dijual Rp. 98.500 per lembar secara tunai. Perhitungan keuntungan dari penjualan saham dan ayat jumal untuk membukukan transaksi tersebut dijabarkan sebagai berikut.

Harga perolehan saham.......................... Rp. 9.800.000
Harga Jual :Rp. 98.500 * 100................ Rp. 9.850.000
Keuntungan.............................................................................. Rp. 50.000

Keuntungan sebesar Rp. 50.000 harus disajikan dalam pendapatan operasional lainnya dalam tubuh laba-rugi bank.

(D) KAS                                                                        Rp. 9.850.000,-                                   
                                    (K) Surat Berharga                                                      Rp. 9.800.000,-
                                    (K) Keuntungan dari Penjualan SB                              Rp.       50.000.-


Capital gain penjualan Surat berharga pasar modal harus diakui sebagai pendapatan bank.






2.3.2   Pendapatan Non-Operasional

Yang termasuk dalam kelompok pendapatan non-operasional adalah rupa-rupa pendapatan yang berasal dari aktivitas diluar usaha utama bank. Contohnya adalah pendapatan dari penjualan aktiva tetap, penyewaan fasilitas gedung yang dimiliki oleh bank, dan lainnya. Pendapatan ini harus diakui sebagai pendapatan pada periode berjalan.

Sebagai contoh, apabila Bank Omega memiliki sebuah mobil dengan harga perolehan sebesar Rp. 35 juta dan telah disusutkan sebesar Rp. 30 juta dijual tunai seharga Rp. 7 juta. Perhitungan keuntungan ini akan dibukukan dengan ayat jumal sebagai berikut :
 

(D) KAS                                                                        Rp.   7.000.000,-
(D) Akm. Penyusutan Kendaraan                                RP. 30.000.000,-                                 
                                    (K) Kendaraan                                                             Rp. 35.000.000,-
                                    (K) Keuntungan dari Penjualan Aktiva Tetap              Rp.   2.000.000,-



2.3.3   Pendapatan Luar Biasa

Disamping pendapatan operasional rutin dan non-operasional, bank kadangkala dihadapkan dengan sualu keuntungan yang diterima secara tiba-tiba atau tidak pemah diramalkan semula. Keuntungan ini merupakan suatu windfall profit, dan harus digolongkan sebagai keuntungan atau pendapatan luar biasa.

Pendapatan luar biasa harus dipisahkan dari hasil usaha sehari-hari dan ditunjukkan secara terpisah dalam perhitungan laba-rugi disertai pengungkapan mengenai sifat dan jumlahnya. Dengan demikian pedu batasan atau definisi mengenai pos atau transaksi apa saja yang dapat digolongkan yang sifatnya luar biasa.

Yang dimaksud dengan pos luar biasa adalah pos yang memenuhi kedua kriteria sebagai berikut :

a.  Sersifat tidak normal (tidak biasa)
Kejadian atau transaksi yang bersangkutan memilih tingkat abnormalitas yang linggi dan tidak berhubungan dengan aklifitas perusahaan sehari­hari.

b.  Tidak Sering Terjadi.
Kejadian atau transaksi yang bersangkutan tidak dihubungkan akan terulang lagi di masa yang akan datang.

Jadi, yang dalam menerapkan kedua kritena tersebut, harus dipertimbang­kan faktor lingkungan dari perusahaan dan frekuensi kejadian atau transaksi, seperti karakleristik industri dan perusahaan yang bersangkutan, faktor geografis perusahaan, dan faktor lainnya seperti politis dan lain sebagainya. Pengakuan pendapatan yang sifatnya luar biasa ini akan mengacu kepada Prinsip Akuntansi Indonesia.

Kejadian yang selalu menjadi pertimbangan bank adalah perubahan kurs valuta asing terhadap mata uang Rupiah. Kenaikan atau penurunan selisih kurs valuta asing tidak dapat dijadikan sebagai keuntungan atau kerugian luar biasa bagi bank di Indonesia karena faham yang diterapkan dalam kurs valuta asing adalah ngambang terkendali (floating rate). Akan telapi, apabila terjadi selisih kurs yang naik secara tiba-tiba, atau naik dengan jumlah yang cukup besar seperti adanya devaluasi Rupiah terhadap valuta asing, maka kejadian ini dapat digolongkan kedalam pos luar biasa (extraordinary item).Keuntungan yang timbul dari kenaikan selisih kurs akibat dari devaluasi merupakan keuntungan atau pendapatan yang timbul dari transaksi yang luar biasa.


2.3.4    Koreksi Masa Lalu

Tidak semua pos dalam laba-rugi periode lalu harus dikoreksi. Pos-pos yang harus dilaporkan sebagai koreksi masa lalu dan tidak diperhitungkan sebagai unsur laba periode berjalan adalah koreksi terhadap kesalahan. Kesalahan yang dimaksud adalah kesalahan dalam laporan keuangan periode yang lalu yang berasal dari kesalahan perhilungan atau kesalahan dalam penerapan prinsip akuntansi yang tidak tepat atau tidak dapat diterima, kelalaian mencatat suatu transaksi atau kojadian yang telah terjadi, dan kesalahan yang bersifat matematis. Koreksi masa lalu yang dilakukan harus diungkapkan dalam laporan keuangan pada periode dimana koreksi tersebut dilakukan.


2.3.5    Pengaruh Kumulatif Perubahan Prinsip Akuntansi

Adakalanya terjadi perubahan penerapan prinsip akuntansi dalam suatu periode tertentu karena alasan manajemen. Perubahan penerapan prinsip akuntansi ini dapat saja berpengaruh pada pendapatan bank sehingga harus dikoreksi dan diungkapkan dalam laporan keuangan. PAI mengatur mengenai pengaruh kumulatif perubahan prinsip akuntansi sebagai berikut.

Pengaruh kumulatif akibat perubahan dari suatu prinsip akuntansi yang lazim ke prinsip lainnya yang juga sesuai dengan PAI harus dilaporkan dalam perhitungan laba-rugi periode terjadinya perubahan, dan disajikan d antara pos luar biasa dan laba bersih.

Jumlah pengaruh kumulatif dari perubahan ke prinsip akiintansi yang baru merupakan selisih antara jumlah laba yang ditahan pada awal periode perubahan dengan jumlah laba yang ditahan yang seharusnya dilaporkan bila prinsip akuntansi yang baru tersebut telah diterapkan secara retroaktif untuk seluruh periode yang dipengaruhi.


2.4   Pengukuran Pendapatan
Pendapatan diukur dengan nilai wajar yang dapat diterima, jumlah pendapatan biasanya ditentukan oleh persetujuan antara perusahaan dan pembeli yang diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima perusahaan dikurangi jumlah discount dagang dan rabat volume yang diperbolehkan perusahaan, umumnya berbentuk kas atau setara kas.
Bila arus masuk dari kas atau setara kas ditangguhkan nilai wajar dari imbalan tersebut mungkin kurang dari jumlah nominal dari kas yang diterima atau yang dapat diterima.
Bila barang atau jasa dipertukarkan untuk barang atau jasa dengan sifat nilai yang sama maka pertukaran tidak dianggap sebagai transaksi yang mengakibatkan pendapatan. Dan bila barang dijual atau jasa diberikan untuk dipertukarkan dengan barang dan jasa yang tidak serupa pertukaran tersebut dianggap sebagai transaksi yang mengakibatkan pendapatan.
Pendapatan tersebut diukur pada nilai wajar dari barang atau jasa yang diserahkan, disesuaikan dengan jumlah kas atau setara kas yang ditransfer.




























BAB III
BIAYA BANK

3.1            PENGERTIAN BIAYA BANK

Secara Umum “Beban atau biaya adalah pengorbanan yang terjadi dalam rangka memperoleh pendapatan.”

Biaya merupakan pengeluaran yang dilakukan oleh suatu perusahaan dalam rangka menciptakan atau memperoleh pendapatan. Maksud dari biaya disini adalah biaya yang secara langsung atau tidak langsung telah dimanfaatkan untuk menciptakan pendapatan dalam suatu periode tertentu. Biaya yang dikeluarkan tidak memberikan manfaat ekonomis untuk kegiatan periode berikutnya.

Dalam Bank Biaya diakui secara accrual basis, selalu diakui dan dibebankan kedalam perhitungan laba-rugi pada saatjatuh waktu tanpa tedebih dahulu menunggu pembayaran. Pembayaran biaya dimuka harus dialokasikan kedalam rekening biaya secara proporsional.

Biaya yang terdapat dalam laporan laba-rugi bank terdiri dari biaya operasianal seperti biaya bunga, biaya komisi, biaya overhead dan biaya non-operasional. Biaya-biaya ini merupakan beban periode berjalan.


3.2            PENGAKUAN BIAYA

Biaya diakui secara accrual basis, artinya selalu diakui dan dibebankan ke dalamperhitungan laba rugi saat jatuh waktu tanpa terlebih dahulu menunggu pembayaran.Pembayaran biaya dimuka harus dialokasikan ke dalam rekening biaya secara proporsional.


3.3            JENIS-JENIS BIAYA BANK

3.3.1   Biaya Operasional

·         BIAYA BUNGA.

Jenis biaya yang paling besar porsinya terhadap biaya bank keseluruhan adalah biaya bunga. Biaya bunga terdiri dari biaya bunga dana yang dimiliki oleh bank. Biaya ini harus diantisipasikan oleh bank pada penutupan tahun buku atau pada tanggal laporan. Biaya bunga ini telah dibahas pada waktu mengupas akuntansi penanaman dana. Biaya bunga pada dasarnya diakui secara accrual basis, kecualipendapatan bunga dalam aktiva produktif non-performing.


·         BIAYA VALUTA ASING.

Biaya dalam transaksi valuta asing lazimnya muncul dari selisih kurs yang merugi. Dalam hal munculnya kerugian selisih kurs baik dalam transaksi spot, tonvard, maupun swap akan dibebankan kedalam laporan laba-rugi.

·         BIAYA OVERHEAD.

Dalam operasi bank sehari-harinya dipedukan biaya untuk mengolah transaksi. Biaya atau beban ini berhubungan tangsung dengan periode terjadinya, oleh sebab itu harus dicatat dan diakui-sebagai beban periode berjalan. Biaya yang dikeluarkan oleh bank ini tidak memiliki manfaat untuk masa-masa mendatang.

Biaya overhead yang ada di bank mempunyai beberapa ciri sebagai berikut.
1.      tidak dapat diidentifikasiakn secara langsung dengan jasa dihasilkan, karena biaya yang dikeluarkan untuk semua kegiatan bank.
2.      Menjadi beban atau biaya pada periode terjadinya. Tidak ada biaya over­head untuk beberapa periode.
3.      Biaya overhead yang dikeluarkan tidak memberikan manfaat untuk masa yang akan datang.

Ada berbagai jenis biaya overhead yang harus terjadi dan diakui dalam laporan laba –rugi bank. Jenis-jenis biaya tersebut antara lain biaya-biaya yang berkaitan dengan pegawai seperti gaji, tunjangan-tunjangan, biaya penyusutan dari aktiva tetap, biaya operasional kantor yang bukan biaya pegawai atau penyusutan, dan jenis biaya-biaya lain yang dikeluarkan atau berkaitan dengan periode pelaporan keuangan.

Biaya Pegawai.
Sebagai contoh, apabila Bank Omega cabang Jakarta membayar gaji pegawai sebesar Rp. 200 juta untuk periode bulan Desember 19XX, dan membayar tunjangan kesehatan Rp. 50juta secara tunai. oleh Bank Omega akan dibukukan dengan ayat jurnal sebagai berikut.
(D) Gaji Pegawai                                                                     Rp.   200.000.000,-
(D) Tunjangan Kesehatan                                                       RP.     50.000.000,-                             
                                    (K) Kas                                                                         Rp. 250.000.000,-
                                   

Biaya Kegiatan Kantor.
Contoh lain adalah biaya yang berkenaan dengan kegiatan kantor. Apabila Bank Omega Cabang Jakarta mengeluarkan biaya pengurusan tamu sebesar Rp. 20 juta selama bulan Desember 19XX, biaya listrik dan air sebesar Rp. 45 juta, biaya riset untuk kegiatan marketing periode berjalan Rp. 43 juta, biaya alai tulis kantor Rp. 23 juta. Semua dibayarkan secara tunai.

(D) Biaya Entertaiment                                                           Rp.   20.000.000,-
(D) Biaya Listrik dan Air                                                          RP.   45.000.000,-
(D) Biaya Riset                                                                        Rp.   43.000.000,-
(D) Biaya Alat Tulis Kantor                                                     RP.   23.000.000,-                               
                                    (K) Kas                                                                         Rp. 131.000.000,-

Khusus untuk biaya riset dapat ditangguhkan dan dialokasikan secara berkala apabila manfaatnya dirasakan lebih dan satu tahun.

Biaya Penyusutan.
Penyusutan merupakan alokasi biaya yang dibebankan kedalam laporan laba-rugi menurut kriteria atau berdasarkan waktu dengan beberapa pilihan atau metode penyusutan sebagai bedkut.
a. Metode garis lurus, dimana besarnya penyusutan dilakukan dengan jumlah yang sama setiap
    periode.
b. Metode pembebanan yang menurun, yang terdiri dari :
·         Metode Sum-of-the-year digits method, dimana besamya penyusut­an akan menurun setiap periodenya dibanding dengan periode sebelumnya.
·         Metode Declining balance method, dimana besarnya penyusutan akan semakin kecil setiap periodenya dan tarip yang dipergunakan adalah dua kali tarip semula.
Untuk aktiva tetap tak berwujud umumnya diamortisasikan berdasarkan metode garis lurus dan penyusutannya langsung mengkredit rekening aktiva yang bersangkutan.


3.3.2    Biaya Non-Operasional

Selain biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan utama bank, juga ada biaya-biaya yang terjadi atau dikeluarkan tidak berkaitan dengan kegiatan utama bank. Kerugian dari penjualan aktiva tetap merupakan salah sate contoh dari biaya non-operasional.
Sebagai contoh apabila Bank Omega cabang Jakarta menjual inventaris kantor secara lelang karena sudah habis umur ekonomisnya dengan harga Rp. 400.000 secara tunai dimana harga perolehannya sebesar Rp- 3.000.000 dan telah habis disusutkan. Ayat jumal untuk mencatat transaksi ini adalah sebagai berikut :

(D) Kas                                                                         Rp.       400.000,-
(D)   Akumulasi Penyusutan — Inventaris Kantor      RP.     3.000.000,-                               
                                    (K) Inventaris Kantor                                                   Rp. 3.000.000,-
                                    (K) Keuntungan dari Penjualan Aktiva Tetap              Rp.    400.000

3.3.3    Pos/Biaya Luar Biasa

Biaya atau kerugian yang timbul digolongkan sebagai pos luar biasa harus dipisahkan dan hasil usaha sehari-hari dan ditunjukan secara terpisah dalam perhitungan laba-trugi disertai pengungkapan atas sifat dan jumlahnya. Seperti halnya pendapatan luar biasa, biaya luar biasa kejadianya tidak normal atau tidak berhubungan dengan kegiatan perusahaan, sehari-hari serta tidak sering terjadi atau tidak terulang lagi dimasa yang akan datang.
Peristiwa seperti gempa bumi dan apabila merugikan bank dapat digolongkan sebagai kerugian atau pos luar biasa. Tetapi apabila di satu negara, seperti Jepang misalnya, peristiwa ini sangat sering terjadi. Dengan demikian kerugian akibat peristiwa ini tidak bisa digolongkan sebagai peristiwa luar biasa.

3.3.4    Koreksi Masa Lalu

Koreksi masa lalu yang berkaitan dengan unsur laba-rugi dapat dilakukan apabila telah terjadi kesalahan dalam penghitungan atau kesalahan penerapan prinsip akuntansi yang tidak tepat waklu atau tidak dapat diterima, kelalaian mencatat suatu transaksi atau kejadian yang telah terjadi, dan kesalahan matematis. Koreksi yang dilakukan terhadap laba-rugi periode lalu harus tetap dlungkapkan.

3.3.5    Pajak Penghasilan (PPh)

Pos biaya paling akhir dalam tubuh laporan laba-rugi adalah pajak penghasilan. Pajak penghasilan dihitung berdasarkan laba menurut akuntansi atau laba kena pajak (taxable income)untuk diperhitungkan dengan tarip pajak penghasilan.

Dalam hal pajak penghasilan dihitung menurut laba akuntansi, selisih perhilungan tersebut dengan hutang pajak (yang dihitung menurut laba kena pajak), yang disebabkan perbedaan waktu (timing difference) pengakuan pendapatan dan beban untuk tujuan akuntansi dengan tujuan pajak, ditampung dalam pos 'Pajak Penghasilan' yang ditangguhkan dan dialokasikan pada beban pajak penghasilan tahun-lahun mendatang.






















BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

          Pendapatan adalah penambahan jumlah aktiva sebagai hasil operasi perusahaan secara bruto, pendapatan diperoleh karena adanya penyerahan/penjualan barang/jasa atau aktiva lainnya dalam satu periode

SedangkanBiaya merupakan pengeluaran yang dilakukan oleh suatu perusahaan dalam rangka menciptakan atau memperoleh pendapatan. Maksud dari biaya disini adalah biaya yang secara langsung atau tidak langsung telah dimanfaatkan untuk menciptakan pendapatan dalam suatu periode tertentu. Biaya yang dikeluarkan tidak memberikan manfaat ekonomis untuk kegiatan periode berikutnya.






































DAFTAR PUSTAKA




Digital Signature



Digital signature untuk pengganti tanda tangan
Adalah suatu sistem pengamanan yang menggunakan public key crytography system . tujuan dari suatu tanda tangan dalam dokumen adalah untuk memastikan otentisitas dari dokumen tersebut. Suatu digital signature sebenarnya adalah bukan suatu tanda tangan seperti yang kita kenal selama ini, ia menggunakan cara berbeda untuk menandai suatu dokumen sehingga dokumen atau data tidak hanya mengidentifikasi dari pengirim , namun ia juga memastikan keutuhan dari dokumen tersebut tidak berubah selama proises transmisi. Suatu digital signature di dasrakan dari isi dari pesan tersebut sendiri.
Banyak orang berkata saat ini adalah era digital, dimana semua data ada bentuk digitalnya atau dapat disimpan di perangkat-perangkat seperti komputer dan smartphone. Di kampus, ketika dulu membuat tugas akhir, saya diminta untuk mengunggah hasil scan lembar pengesahan dari buku tugas akhir yang telah ditandatangani oleh kedua pembimbing. Selain itu, ketika ada sebuah sistem informasi dimana kita harus mengisi form yang nantinya harus ditandatangani oleh pihak yang lebih tinggi, kita harus mencetak isian dari form tersebut dan meminta tandatangan dari pihak tersebut.
 Kemudian jika sistem membutuhkan form yang telah ditandatangani itu, berarti kita harus memindai kertas isian tadi dan mengunggahnya. Jika yang kita mintai tandatangan hanya 1 orang mungkin tidak terlalu masalah, tapi kalau ada banyak orang yang harus menandatangani, berarti kita harus berkeliling untuk mencari tanda tangan.
Description: Alur Tanda Tangan Dokumen
Alur Tanda Tangan Dokumen
Masalah lain yang dihadapi adalah dari sisi penanda tangan, karena dia harus menandatangani sekian banyak berkas. Berarti butuh waktu yang tidak sebentar untuk menandatangani. Digital signature / Tanda Tangan Digital bisa menjadi alternatif untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Digital Signature sama sekali berbeda dengan tanda tangan di atas kertas yang dipindai.



Description: Contoh Digital Signature
Contoh Digital Signature
Pengantar
Digital Signature adalah sebuah data yang ditambahkan pada sebuah dokumen yang dihasilkan oleh suatu perhitungan matematis yang rumit, sehingga membuatnya hanya dapat dibuat oleh orang tertentu. Setiap orang akan membuat digital signature yang berbeda, bahkan untuk setiap file/data berbeda yang mereka tandatangani, digital signature yang dihasilkan juga akan berbeda. Dengan ini, kita dapat memverifikasi sebuah file/dokumen/data apakah benar dibuat oleh orang yang bersangkutan.
Digital Signature dibuat dengan memanfaatkan sebuah metode enskripsi estrimatis. Dimana pada metode enkripsi tersebut akan ada 2 buah kunci yang selalu berpasangan, publik dan privat. Setiap orang yang ingin menggunakan metode enkripsi ini harus memiliki 2 jenis kunci tsb. Kunci privat seseorang hanya boleh dimiliki oleh orang tersebut, sedangkan kunci publik pasangannya bisa disebarkan kemana saja. Lalu apa hubungannya 2 jenis kunci tadi dengan digital signature? Jawabannya bisa dilihat pada gambar di bawah ini.
Description: Alur Pembuatan dan Verifikasi Digital Signature
Alur Pembuatan dan Verifikasi Digital Signature
Untuk membuat digital signature/menandatangani suatu dokumen, si Bayu (pengirim) cukup menghitung hash value dari suatu dokumen dengan menggunakan hash function dan mengenkripsi hash value yang dihasilkan dengan menggunakan kunci privat yang dimilikinya. Kemudian digital signature yang dihasilkan cukup ditambahkan ke dokumen yang akan dikirim.
Nah, bagaimana orang lain (Anita) dapat memverifikasi keabsahan dokumen/data yang dikirimkan Bayu? Anita cukup menghitung ulang hash value dari dokumen yang dikirimkan Bayu dengan sebelumnya mengekstrak digital signature yang terkirim bersama dokumen. Kemudian Anita akan mendekripsi digital signature tersebut dengan memakai kunci publik milik Bayu (yang tentu saja Anita boleh memiliki kunci publik si Bayu). Hasil dekripsi akan menghasilkan sebuah hash value yang akan dibandingkan dengan hash value yang dihitung sebelumnya, jika sama, berarti dokumen tersebut benar-benar ditulis dan dikirimkan oleh Bayu.
Berhubung kunci privat si Bayu hanya dia yang memiliki, maka tentu tidak ada orang lain yang bisa membuat signature yang sama pada sebuah dokumen. Kemudian, bagaimana digital signature bisa menggantikan tanda tangan biasa?
Solusi
Pada metode tanda tangan biasa, pengguna yang ingin memberi tanda tangan pada sebuah dokumen/data harus mencetak dokumen/data tsb dan  membubuhkan tanda tangan. Selanjutnya meminta tanda tangan dari pihak lain (yang biasanya berkedudukan lebih tinggi). Jika sistem yang digunakan membutuhkan dokumen/data yang sudah ditandatangani, berarti pengguna harus memindainya. Seharusnya, penerapan digital signature dapat menggantikan hal tersebut.
Description: Alur Tanda Tangan Versi Digital
Alur Tanda Tangan Versi Digital
Misalkan saja ada suatu sistem yang mengharuskan penggunanya untuk meminta tanda tangan dari orang lain untuk setiap dokumen/data yang dia buat. Daripada menggunakan cara lama, seharusnya si pengguna cukup membubuhkan digital signature pada dokumen/data yang dibuat. Kemudian sistem akan menyimpan dokumen/data beserta tanda tangan digital dari pengguna tsb. Kemudian orang lain yang harus menandatangani dokumen/data tsb cukup membuka sistem tadi, memverifikasi digital signature yang tertera di sana, dan menandatangani dokumen/data tsb dengan kunci privat miliknya. Jika ada orang lain lagi yang harus menandatangani dokumen/data tsb, maka dia cukup melakukan hal yang sama dengan orang sebelumnya.
Dengan ini, banyak biaya dan waktu yang bisa dipangkas. Kita tidak perlu mencetak dokumen, tidak perlu berkeliling dari satu ruangan ke ruangan yang lain, dan yang terpenting adalah tanda tangan dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Hal ini juga bisa diterapkan di berbagai sistem, seperti repositori buku skripsi/tugas akhir yang harus ada tanda tangan pembimbing, sistem pelaporan untuk PKM/penelitian, sistem penilaian kinerja karyawan, dan berbagai sistem yang menggunakan komputer lainnya. Selain itu, di Indonesia sendiri seharusnya tanda tangan digital/digital signature juga merupakan alat yang sah untuk verifikasi dan autentikasi (berdasarkan UU no 11 tahun 2008 tentang ITE, pasal 1 poin 12), meskipun beberapa ketentuan lebih lanjut masih membutuhkan peraturan pemerintah.
Tantangan
Penerapan tanda tangan digital memang bisa mempermudah pengguna, tetapi ada beberapa tantangan yang akan dihadapi dan harus diantisipasi untuk memastikan bahwa sistem yang dirancang memang benar-benar aman dan dapat dipercaya untuk melakukan verifikasi. Beberapa tantangan yang dihadapi adalah :
  • Memastikan bahwa kunci publik yang diterima adalah benar-benar milik si penanda tangan, harus ada pihak ketiga yang terpercaya yang bisa memastikan kebenaran suatu kunci publik. Di luar negeri ada Verisign, Digicert, Thawte, dsb. Di Indonesia setahu saya belum ada sampai saat artikel ini ditulis.
  • Edukasi ke semua pengguna bahwa kunci privat (meskipun hanya sebuah file) tidak boleh diberikan ke siapapun juga.
  • Kunci privat dan publik itu selalu sepasang, jika salah satu hilang dan tidak ada backup (terutama kunci privat), maka kunci pasangannya juga harus diganti
  • Di sisi mana proses pemberian digital signature akan dilakukan? Jika di sisi server, bagaimana agar kunci privat milik pengguna tidak perlu disimpan/dikirimkan ke server.
  • Digital signature bukanlah satu-satunya cara pengamanan data, masih banyak sisi lain dari suatu sistem yang harus diamankan.
  • dsb…
sumber :